OMC Berau Berakhir, Masih 6 Ton Bahan Semai Tersisa, Pemkab Dorong Operasi Diperpanjang
Wakil Bupati Gamalis saat meninjau Posko Pemantauan OMC di Bandara Kalimarau. (foto : sep/fn)
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU :
Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendatangkan hujan melalui Operasi
Modifikasi Cuaca (OMC) masih menghadapi tantangan. Saat masa operasi
dijadwalkan berakhir Jumat (28/8/2026), namun
hujan yang turun di sejumlah wilayah Berau belum merata. Di sisi lain,
dari total 10 ton bahan semai yang disiapkan, sekitar 6 ton masih tersisa.
Kondisi tersebut
menjadi alasan Pemkab Berau mendorong agar pelaksanaan OMC bisa diperpanjang. Wakil
Bupati Berau, Gamalis, menyampaikan hal itu saat meninjau posko pemantauan OMC
di Bandara Kalimarau, Kamis (27/8/2026).
Pemerintah Berau juga
berharap sisa bahan semai dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan peluang
turunnya hujan, terutama di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
yang masih menjadi perhatian.
Gamalis mengatakan,
OMC yang mulai dilaksanakan sejak 24 Agustus tersebut sejauh ini baru
menggunakan sekitar empat ton bahan semai. Sementara 6 ton lainnya masih
tersedia.
Menurutnya, hujan
yang terjadi saat ini belum sesuai dengan harapan karena masih bersifat spot
atau hanya turun di wilayah-wilayah tertentu.
“Kita melihat hari
ini kondisi hujan belum terlihat, hanya spot by spot saja. Kita berharap
pesawat ini atau OMC ini bisa diperpanjang sampai ikhtiar kita ini betul-betul
terlaksana dalam hal menurunkan hujan untuk mengantisipasi karhutla yang ada di
Kabupaten Berau,” ujar Gamalis.
Namun, pelaksanaan
OMC tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan bahan semai. Faktor paling
menentukan adalah kondisi awan. Gamalis menjelaskan, tim OMC harus terus
memantau perkembangan awan untuk menentukan lokasi yang memiliki potensi
dilakukan penyemaian.
Kondisi awan pada
pagi hari, kata dia, umumnya belum cukup berkembang untuk dilakukan intervensi.
“Biasanya kalau pagi
itu tidak akan pernah ada karena pagi itu menurut mereka baru bibit awan. Nanti
akan terlihat itu di siang hari,” terangnya.
Memasuki siang hingga
sore, perkembangan awan mulai lebih mudah dipantau. Ketika ditemukan kumpulan
awan yang dinilai memiliki potensi, pesawat OMC akan segera diarahkan menuju
lokasi tersebut.
“Kalau sudah
terlihat, mereka akan terbang cepat ke sana untuk menyebar garam,” ungkapnya.
Meski demikian,
pergerakan awan juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan OMC di
Berau.
Gamalis menyebut,
berdasarkan pemantauan tim, awan yang telah terbentuk lebih banyak bergerak
menuju kawasan pegunungan, khususnya Kelay. Kondisi tersebut membuat penyemaian
awan tidak selalu menghasilkan hujan di kawasan yang menjadi sasaran utama.
“Rata-rata awan itu
setelah ngumpul lebih banyak ke arah Kelay, ke arah pegunungan daripada ke arah
dataran, pesisir dan sebagainya. Itu menjadi kendala buat mereka,” tuturnya.
Karena itu, Pemkab
Berau berharap pelaksanaan OMC tidak langsung dihentikan ketika memasuki batas
waktu operasi. Pemerintah daerah masih melihat adanya peluang untuk
memanfaatkan sisa bahan semai selama kondisi awan memungkinkan. Terlebih,
kebutuhan terhadap hujan masih cukup penting untuk membantu mengantisipasi
karhutla di wilayah Berau.
“Kita mencoba tadi
agar kawan-kawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini dalam
mengoperasikan OMC ini bisa, kalau memungkinkan dengan kondisi awannya ada dan
kondisi karhutla yang masih seperti ini bisa diperpanjang,” pungkas Gamalis.
Permintaan
perpanjangan tersebut selanjutnya akan dibahas oleh BNPB bersama pemerintah
pusat melalui rapat daring. Pemkab Berau berharap pembahasan tersebut
menghasilkan keputusan yang memungkinkan OMC kembali dilanjutkan.
Dengan begitu, enam
ton bahan semai yang masih tersisa dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk
mengejar hujan, sekaligus mendukung upaya pemerintah daerah dalam
mengantisipasi karhutla. (sep/FN/Advertorial)